Fakta Bartender Minuman Mewah

Menurut sebagian orang yang beranggapan bawa bartender adalah sebuah pekerjaan yang tak lazim dan berkaitan erat dengan dunia malam serta club. Namun sebenarnya peminat pada profesi ini cukup banyak sehingga akses untuk bisa mempelajari ilmunya lah yang cukup sulit. Hal ini karena tidak semua orang mau berbagi ilmu secara cuma-cuma terlebih lagi profesi ini sangat dipandang buruk di Indonesia, dan masih banyak orang yang belum mengetahui apa sebenarnya benefit pekerjaan ini sehingga di luar negeri sangat populer.

Bartender adalah sebuah profesi yang dimana seorang berkreasi membuat minuman serta pertunjukan peracikan minuman semenarik mungkin. penghasilan menjadi seorang bartender mungkin bukanlah penghasilan yang banyak atau bahkan jauh dari kata cukup, untuk di Indonesia sendiri profesi ini berpenghasilan jauh dari upah minimum dari pemerintah setempat. Akan tetapi uang tip yang diberikan oleh klien biasanya cukup memuaskan hanya saja seorang bartender harus sanggup memberikan yang terbaik kepada pelanggan yang setia, Jika pelanggan merasa puas maka pelanggan juga akan memberikan pemasukan bonus yang memuaskan untuk bartender.

Perbandingan Bartender Dengan Mixologist

Di Asia, bartender berpengalaman cenderung menilai mixologist sebagai bartender baru yang belum berpengalaman. “Di Korea, bartender adalah orang-orang yang membuat koktail lezat, sementara mixologist membuatnya menjadi indah,” kata pemilik bar Le Chamber Dohwan di Seoul Dohwan Eom.

Eom adalah juara dua ajang Diageo World Class Bartender pada 2010. Dia meraih gelar tersebut atas karyanya menciptakan menu minuman dengan mencampur bahan makanan ke dalam koktail di Ritz-Carlton, Seoul.

Bartender melebihi Seseorang Mixologist

” Saat ini para bartender belia suka mengatakan diri mereka mixologist, coba membuat profesi mereka terdengar fantastis,” ucap Takumi Watanabe, seseorang pensiunan bartender sepanjang 20 tahun, juara apresiasi di Kafe Sailing yang elok di Nara, Jepang. Ia dikira bagaikan salah satu bartender terbaik di negeri itu.

” Di Jepang, orang dihormati sebab terletak di satu profesi sepanjang bertahun- tahun. Jadi, mengatakan diri Kamu mixologist tidak akan membuat klien yakin pada Kamu.”

Statement Watanabe itu membuktikan perbandingan angkatan. Kelihatannya susah meyakini seorang semacam Watanabe yang membuat segelas koktail sebaiknya seremoni.

Mixology Merupakan Sebutan Klasik Seorang Bartender

Wajib terdapat opini lain yang bagus mengenai mixologist. Michael Callahan dan Raj Nagra, mereka mengatakan diri mereka bagaikan bartender, tetapi tidak menganggap mixologist bagaikan sebutan sombong.

Sebutan itu muncul pada tahun 1850- an. Jadi aku pikir tidak bisa jadi menghilangkan seluruhnya sebutan itu sebab berarti melalaikan asal usul,” kat Callahan, perintis bartender di 28 Hongkong Street di Singapura, dan mantan delegasi kepala negara United States Bartenders Guild.

” Mixologist timbul kembali dalam sebagian dasawarsa terakhir dengan cara lebih kasar,” tutur Nagra, Garis besar Bombay Sapphire Ambassador dan bartender pensiunan di New York.

” Banyak calon bartender di era modern ini memakai sebutan itu bagaikan pengepresan dan menolong mengganti opini pelanggan mengenai apa profesi bartender.” Alat menyayangi sebutan mixologist itu dan memakainya lebih kerap untuk ceria pembaca mereka mengenai kemajuan pabrik koktail,” nyata Nagra.

Bartender Asing Sedia Kuasai Bar Indonesia

Tanpa perencanaan yang bagus, bangsa Indonesia cuma akan jadi pemirsa dalam bidang usaha seni meracik minuman ataupun kafe pada masa Warga Ekonomi Asean ataupun MEA yang akhir 2015 ini akan diberlakukan. Sampai dikala ini, putra- putra Indonesia yang mempelajari pekerjaan itu sedang di dasar 10 persen dari keinginan pasar dalam negara.“ Halangan penting tingkatkan ketertarikan anak belia untuk mempelajari pekerjaan itu sebab sedang lekatnya bartender dengan dunia gelap dalam image warga.

Sedang banyak warga beranggapan kalau bartender sama dengan minuman keras, narkotika dan seks leluasa,” tutur Suhendroyono, pimpinan Biasa Gabungan Pembelajaran Pariwisata Indonesia dikala membuka aktivitas Kafe Academy di Yogyakarta. Sementara itu, lanjut Suhendroyono, dunia bartender amat akrab kaitannya dengan pariwisata.“ Teruji, penginapan yang mempunyai kafe akan lebih disukai turis asing dibanding yang tidak. Dan bila Indonesia tidak mempunyai daya pakar bartender yang ahli, pasar kegiatan dalam negara akan diserbu daya dari negeri lain,” lanjut Suhendroyono.

Sayangnya, untuk ceria anak belia untuk mempelajari pekerjaan bartender pula tidak gampang. Tidak hanya image warga yang sedang buram, pekerjaan itu di Indonesia pula tidak terkenal, sampai untuk mencari referensi ilmu pengetahuannya juga tidak gampang.” Sepanjang ini, mahasiswa yang atensi masuk ke prodi bartender tidak terdapat 10 persen dari keseluruhan mahasiswa yang kita dapat tiap tahunnya. Mereka ini wajib bertugas keras untuk meningkatkan skill- nya, sekalian lalu meng- update kemajuan ilmu bartender,” tutur Suhendroyono lebih lanjut.

Aktivitas Kafe Academy, bagi Suhendroyono, tidak hanya untuk menyosialisasikan pekerjaan itu pada warga, pula jadi pertandingan untuk calon- calon bartender se- Jawa untuk silih memberi pengalaman dan beralih data ilmu- ilmu kafe terkini.“ Warga Indonesia telah waktunya mengganti pola pikir mengenai kafe. Bartenderbukanlah pekerjaan kurang baik. Dan, jadi bartender pula tidak gampang,” pungkas Suhendroyono.

Jadi jika lebih detil, seorang mixologist adalah orang-orang yang berperan di belakang layar. Hal ini terkait seperti pembuatan menu yang menuntut seorang mixologist mesti mampu untuk selalu berinovasi. Inovasi yang dilakukan tentunya terkait dengan periode waktu yang sudah ditentukan juga oleh berbagai pihak. Namun, tentu pressure point justru di bagaimana mereka bisa menemukan racikan minuman yang pas dan disukai para pengunjung bar atau pub tersebut. Nah jika menu sudah dibuat – barulah para bartender bisa menjalankan atau mengeksekusi ‘resep’ dari para mixologist untuk dijajakan. Kurang lebih begitu hubungan antara mixologist dan bartender.

Perkembangan Mixology dan Mixologist di Indonesia

Mixology dan mixologist di Indonesia sendiri cukup berkembang pesat di mana para pengusaha bar di destinasi-destinasi wisata seperti Bali, tentu membutuhkan mereka-mereka yang dapat meramu minuman dengan ciamik sehingga mendatangkan atensi yang masif. Mulai dari tahun 2017 ke atas, perkembangan terkait keingintahuan ilmu tentang bagaimana mencampur atau meracik sebuah minuman meningkat pesat. Oleh karena itu istilah mixology dan mixologist naik ke permukaan.

Sampai sekarang banyak mereka yang ingin menjadi mixologist belajar ke beberapa negara yang terkenal dengan minuman-minuman uniknya. Begitu pulang ke Indonesia, barulah mereka bereksperimen dengan banyak hal.

Jepang Keluarkan Teknologi Bartender Pada Sebuah Robot

Dalam sebuah uji coba, Bartender robot pertama mulai menyajikan minuman di sebuah pub di Tokyo, Jepang. Uji coba itu dapat membawa gelombang otomatisasi di restoran dan toko-toko yang berjuang untuk merekrut pegawai di tengah masyarakat Jepang yang sudah lanjut usia.

Robot tersebut menyajikan minuman yang dioperasikan oleh jaringan restoran Yoronotaki. Wajah robot dilengkapi komputer tablet dengan tampilan tersenyum saat mengobrol tentang cuaca dan sambil menyiapkan pesanan.

Tidak hanya itu, Robot tersebut dapat menuangkan bir dalam 40 detik dan mencampur koktail dalam satu menit dan menggunakan empat kamera untuk memonitor pelanggan dan menganalisis ekspresi mereka dengan perangkat lunak kecerdasan buatan (AI). Mencari jasa pekerja di Jepang, akan semakin sulit. Robot ini sendiri hadir untuk membantu para pekerja yang telah lanjut usia.

“Kami berharap ini menjadi solusi,” ujar Yoshio Momiya, manajer Yoronotaki, ketika robot menyajikan minuman di belakangnya. “Masih ada sejumlah masalah untuk diselesaikan, seperti menemukan ruang yang cukup untuk itu, tetapi kami berharap ini akan menjadi sesuatu yang dapat kita gunakan,” tambahnya.

Share Now

Related Post

Leave us a reply